Hari Yang Penuh Berkah – Untung ada Tzu Chi

Image

Hari ini, 14 April 2012 adalah peringatan 46 tahun Tzu Chi. Pagi-pagi, saya berangkat menuju Jing Si Tang di PIK untuk mengikuti ceramah Master Cheng Yen secara live dari Taiwan. Sebenarnya ada sesi doa bersama tapi karena dilakukan secara Budhis, maka saya tidak mengikuti sesi tersebut.

Saat mendengarkan ceramah Master, Master Cheng Yen melakukan kilas balik atas apa yang Tzu Chi lakukan 46 tahun lalu. Mulai dengan pembagian bantuan setiap bulan dan pemberian makan siang yang hangat bagi para penerima bantuan. Juga berkisah tentang kebiasaan doa rutin yang dilakukan dengan ruangan yang sangat sempit hingga akhirnya relawan harus melakukan pradaksina hingga ke luar ruangan. Kondisi yang serba sederhana tidak pernah menjadi halangan bagi perkembangan Tzu Chi. Justru di dalam kesederhanaan, Tzu Chi berkembang pesat.

Image

 

Master juga berpesan tentang relawan-relawan yang begitu tulus dalam menjalani jejak bodhisatva. Dalam pandangan saya langsung muncul beberapa sosok yang selama ini saya kagumi:

1. Su Mei Shigu – wanita istri pengusaha Taiwan ini yang merintis Tzu Chi di Indonesia dari tahun 1993. Kesederhanaan beliau sungguh luar biasa. Meski beberapa orang menganggap beliau terlalu pendiam, tetapi beliau tidak pernah mengeluh dan terus bekerja. Berapa dari kita yang bisa seperti beliau?

2. Lynda Shigu – ketua heqi timur ini mungkin bukan tipe yang bisa berdebat. Beliau adalah tipe ‘Yes Sir’. Yang penting melakukan. Kepolosan beliau sungguh luar biasa sehingga meski sering dalam posisi serba salah sebagai Ketua Heqi, beliau terus melakukannya. Beberapa orang mungkin sudah menyerah tetapi beliau tidak.

3. San Ying Shigu – relawan ini bisa bertukar bis beberapa kali saat menerima tugas melakukan survey kasus. Pernah shigu ini harus ganti bis 3 kali untuk survey ke daerah-daerah pinggiran di Jabodetabek demi memberikan penilaian yang tepat sebelum memberikan bantuan pada keluarga yang membutuhkan. Kesederhanaan dan tekad yang ulet sungguh luar biasa.

 

Orang-orang diatas di dalam kesederhanaan mereka justru menjadi sosok yang luar biasa. Berapa orang yang bisa bertahan selama 19 tahun merintis sesuatu yang baru di Indonesia dengan dibayang-bayangi kecurigaan pemerintah akan suatu yayasan yang tidak jelas. Saat sharing hari ini yang juga merupakan syukuran kepindahan kantor Yayasan dari ITC Mangga Dua ke PIK, Sumei Shigu sampai menitikkan air mata. Tidak terasa 19 tahun dengan berpegang teguh pada keyakinan kepada Master, beliau mempersembahkan hidupnya tanpa imbalan materi.

Image

Siangnya, setelah acara selesai, saya berkesempatan mengikuti Kunjungan Kasih ke satu keluarga di Rusun Tanah Pasir, Jakarta Utara. Yang akan kami kunjungi adalah seorang nenek berusia 79 tahun. Suaminya yang lebih muda 20an tahun karena stres sehingga harus mendapatkan perawatan dari dokter jiwa. Nenek ini sendiri kena stroke sehingga tidak bisa mengurusi diri sendiri. Pasangan ini tidak punya anak. Suaminya adalah orang Taiwan yang berlayar ke Indonesia dan menetap di Indonesia. Karena tidak pernah mengurus kewarganegaraan, hingga hari ini suaminya masih berstatus WNA. Karena suaminya sendiri tidak menjalin jodoh yang baik dengan saudara mereka di Taiwan sehingga saat kondisi kejiwaan suaminya terganggu, keluarga suaminya yang tinggal di Taiwan juga tidak mau menerimanya kembali.

Kondisi mereka berdua sungguh memprihatinkan. Secara rutin, relawan Tzu Chi bukan hanya mengantarkan bantuan bulanan, tetapi juga harus membersihkan rumah mereka. Nenek ini karena stroke, tidak bisa menjaga diri sendiri. Buang air dilakukan langsung di pakaian. Diaper yang dibelikan relawan juga ditolak dengan alasan tidak nyaman. Hari ini saat kami berkunjung, saya menerima keluhan dari tetangga. Tetangga yang secara berkala membawakan makanan buat mereka pun kewalahan. Suaminya yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Jiwa tidak bisa menjaga istrinya sehingga nenek ini dengan kotoran yang berceceran harus menunggu tiga hari hingga kunjungan relawan selanjutnya baru bisa dibersihkan. Bau yang menyengat membuat tetangga enggan untuk membantu. Alasan mereka: tubuh nenek terlalu bongsor sehingga berat jika harus dipindahkan untuk dibersihkan. Kembali relawan Tzu Chi mengajak orang ke sana untuk membersihkan rumah dan juga badan nenek.

Menghadapi hal seperti ini, saya cuman bisa berkata pada diri sendiri, ‘Untung ada Tzu Chi’. Jika tidak ada relawan Tzu Chi, bagaimana nasib pasangan tua ini. Meski Tzu Chi tidak bisa membantu semua, setidaknya Tzu Chi bisa melakukan semampunya, mengurangi penderitaan sebagian umat manusia.

Terima kasih Master Cheng Yen untuk kesempatan ini…

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Pantang Menyerah – Belajar dari Semangat Semut

Isi ini saya dapat dr Tante Ocha, teman yang kerja di BSD Land melalui BBM. Suka dengan isinya, terutama di saat sekarang… Mudah-mudahan bermanfaat juga bagi teman-teman

Coba hancurkan rumah semut maka dalam waktu singkat mereka akan sibuk menuntaskannya.

Laba-laba, Lebah & Semut memberi inspirasi kepada kita tentang bagamana menghadapi kerasnya kehidupan ini dengan satu tekad:

“PANTANG MENYERAH !!!
&
MULAILAH BANGKIT !!!”
67

Jangan pernah menyerah jika sedang berusaha meraih impian.

Tidak ada alasan untuk menyerah.

Orang yang gagal selalu mencari-cari alasan, akan tetapi orang yang berhasil selalu mencari jalan keluar.

Tahukah kita bahwa berhasil dalam hidup ini tidak hanya sekadar berada pada tempat & waktu yang tepat.

Tetapi juga berada pada tempat & waktu yang salahpun, namun karena tidak pernah menyerah tetap bisa berhasil.

Kita boleh saja memiliki impian yg besar.

Tetapi tanpa semangat, kerja keras, ketabahan hati, tahan uji, pantang menyerah, maka impian itu hanyalah sebuah fantasi atau khayalan belaka.

Kita tak akan pernah melihat impian itu menjadi nyata dalam hidup ini.

Kita hanya bisa menikmati impian dalam pikiran atau imajinasi saja.

Pikirkanlah ini !!!

Ketika kita putus asa, ragu, lelah atau hampir diambang kegagalan, ingatlah kembali akan impian yg ingin diraih.

Impian itu akan menjadi sumber inspirasi yg akan selalu menguatkan kita & memberi sebuah motivasi yang besar.

Hidup ini memang keras tetapi bukan berarti harus menyerah begitu saja tanpa mencoba cara yang lain.

Biarlah kesuksesan yang ditemukan pada diri orang lain menjadi cambuk untuk kita bangkit kembali.

Kalau mereka bisa berhasil kenapa kita tidak bisa seperti mereka.

JANGAN pernah MENYERAH Sahabat !

TERUSLAH BERJUANG !!!

It’s a life,
Your life,
My life,
Our life..

We do Our Best and Let’s GOD do the Rest..

Never..

Never..

Ever Give Up..

God always love us

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

In memoriam: 29 thn Meninggalnya Papa

Hari ini, 7 April 2012, tepat 29 thn meninggalnya papa menurut penanggalan lunar. Ternyata udah lama sekali.

Seperti kepercayaan Tionghoa Bagan pada umumnya, maka dari kemarin mama sudah sibuk dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk disembahyangkan. Saya sendiri tidak terlalu mengikuti hal-hal ginian jadinya saya ga tau.

Taunya dari tadi malam, mama tiba-tiba berkata :’waduh, saya lupa membeli rokok.’ Tanya saya ‘untuk apa rokok?’
‘besok kan peringatan meninggalnya papa kamu?’
‘trus kenapa harus rokok?’
‘papa kamu kan suka dan harus gudang garam karena itu merek favoritnya dia’
‘ma, kita kan harus mendukung kesehatan papa. Kenapa harus dikasih rokok? Suruh aja berhenti. Agar sehat.’ ‘papa kamu setahun baru bisa merokok sekali. Gapapa kali.’
‘wah, mama masih begitu perhatian ama papa. Masih hafal sukanya merek apa. Masih dibakarin setiap tahun. Mama yakin selama 29 thn ini, papa ga cari istri baru di akhirat sana?’ ‘GA SOPANNNN!!!’
‘atau bisa aja papa usah reinkarnasi dan dilahirkan kembali kan? 29 thn itu lama lho….’

Hehehehe, pembicaraan iseng tapi nyata. Saksi mata adik dan tante yang hanya bisa ketawa bersama.

Dan hari benar-benar saya melihat setumpuk rokok diatas meja sembahyang. Dari pagi jam 5an, mama udah siap dengan segala macam masakan. Mulai dari sibuk memotong sayur, membuat kari, mie, bihun dan sebagainya, mama super sibuk pagi ini. Dan anak cowo satu-satunya hanya bisa sibuk mendengkur menikmati dinginnya AC yang masih terasa meski udah dimatikan jam 4 tadi.

Seperti biasa, menjelang pukul 10, semua menu pilihan sudah terpajany diatas altar, kami membakar hio untuk papa. Meminta papa agar melindungi kami dimanapun kami berada. Dalam hati saya terpikir ‘kasian ya papa, sudah meninggal pun masih dikasih beban untuk menjaga kami’. Akhirnya saya tambahkan ‘papa, jangan kuatir. Kami sudah besar semua dan bisa menjaga diri. Kami akan menjaga diri dengan baik.’ Bagaimanapun juga, pemikiran terakhir ini terinspirasi oleh Yabin, produser drama DaaiTv yang mengatakan kita sebagai manusia masih suka ‘mengganggu’ saudara-saudara kita yang sudah meninggal dengan segudang permintaan. Make sense.

Anyway, udah 29 thn. Bayangan papa juga udah sangat tidak jelas. Meski sering dipuji-puji tetangga sewaktu di Bagan sebagai sosok yang pintar, baik dan pengertian, saya ga mempunyai ingatan yang jelas tentang beliau.

Sewaktu beliau meninggal, kami anak-anaknya masih kecil. Pas pemakaman pun, saya dan adik saya tidak ikut karena kami terserang campak. Kasian sekali kondisi mama yang harus mengurus pemakaman dan juga menjaga kami berdua di saat itu. Untungnya cici yang udah berusia 5 thn waktu itu udah banyak mengerti dan membantu di kala itu.

Meski ga banyak kenangan jelas bersama papa, satu hal yang pasti, kami bangga dengan sosok papa. Beliau menjadi inspirasi bagi kami dan teladan untuk terus menjaga kebersamaan keluarga.

Selamat jalan papa

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Taman Wisata di Pantai Indah Kapuk

20120325-171359.jpg

20120325-171422.jpg

20120325-171442.jpg

20120325-171507.jpg

20120325-171535.jpg

20120325-171550.jpg

20120325-171614.jpg

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

My Heart Goes To Bromo

Bromo dari dulu sudah menjadi tujuan impian saya. Sejak dulu, teman-teman selalu memuji Bromo sebagai tempat yang indah. Beberapa majalah fotografi selalu menampilkan foto mengenai Bromo dengan dramatis sehingga keinginan ke sana kian hari kian memuncak.

Sebenarnya dari dulu sejak kerja di Pakuwon pun, ada beberapa kesempatan untuk mampir ke Bromo tetapi karena masalah kerjaan selalu menjadi prioritas, akhirnya keinginan ke Bromo tidak pernah kesampaian padahal sudah belasan kali saya mampir ke Surabaya maupun Malang.

 

Kali ini, perjalanan ke Bromo terwujud tanpa disengaja. Awalnya karena adanya undangan dari Ci Agnes untuk pernikahan putrinya. Ada beberapa dari teman-teman yang diundang seperti Anton dan David, selain saya tentunya. David tidak bisa berangkat karena harus standby di tokonya di ITC Cempaka Mas. Anton masih ragu karena dia sudah memutuskan untuk mengirimkan karangan bunga. Saya sendiri bingung karena bagi saya, kehadiran saya itu wajib. Bukan karena saya penting, tapi karena undangan itu datang dari Ci Agnes, orang yang sangat banyak membantu saya terutama pada saat saya menjadi coordinator pemasaran untuk Mall di Kediri. Ci Agnes waktu itu tanpa sungkan-sungkan membantu mengerahkan karyawannya untuk membagikan brosur ke mall-mall di Surabaya dan Gresik. Bahkan sempat sekali stafnya ketangkap security membagi brosur di salah satu mall dan saya yakin Ci Agnes mengeluarkan sejumlah uang tertentu untuk mengeluarkan stafnya dengan aman. Karena itu, saya terus merasa berutang budi dengan Ci Agnes.

 

Akhirnya dengan sedikit racun, saya berhasil meyakinkan Anton untuk ikut bersama, sekalian untuk hunting bersama ke Gunung Bromo.

 

Kami mengambil paket yang sebenarnya harganya Rp.300.000/orang dengan catatan minimal 6 orang. Tetapi karena kami berdua, harga berubah dan kami dikenakan biaya sebesar Rp.425.000/orang. Ga masalah sih asal bisa ke Bromo, itu tekad saya.

 

Hari H, setelah selesai dari kondangan, kami dijemput jam 10 malam untuk berangkat. Perjalanan ternyata sangat lancar meski ada sedikit gerimis. Tiba di titik untuk berganti jeep sekitar jam 1.30 tengah malam yang artinya terlalu pagi. Karena itu, kami beristirahat sebentar dan kemudian naik jeep menuju ke penanjakan pukul 2.30 subuh. Perjalanan menuju penanjakan di dalam kegelapan menjadi tantangan tersendiri, terlebih jalanan yang rusak karena letusan setahun lalu dan juga kegelapan yang begitu pekat, membuat hati agak ciut juga, terlebih dengar-dengar di samping adalah jurang. Diam-diam hati berdoa minta lindungan-Nya.

Image

Tiba di penanjakan sekitar jam 3an, kami menyempatkan diri menikmati kopi panas dan popmie hangat. Hmmmm, rasanya enak sekali. Setelah itu, kami langsung mencari spot yang bagus untuk memulai hunting foto kami. Anton mengajak saya untuk memoto star trail. Damn, mendengar aja baru pertama kali, saya terus terang ga ngerti apa yang harus saya ambil. Beberapa kali melakukan percobaan, akhirnya ngerti juga maksudnya apa. Sayang, hasil foto saya ga bagus untuk ini.

 

Untungnya, kami tidak perlu menunggu lama karena matahari mulai menampakkan diri. Kami sibuk dengan sudut pandang masing-masing dan beberapa kali, Anton memberikan saya masukan untuk mendapatkan sudut yang bagus dan berbeda. Beruntung sekali saya ditemani dia sehingga saya bisa belajar banyak dari dia. Anton sendiri bermain dengan kamera IR sementara saya, sibuk dengan lensa sejuta umat, maksudnya lensa all in (untuk orang yang malas nukar-nukar lensa) ukuran 18-200mm.

Image

Image

Sibuk berfoto hingga jam 8an, kami bergerak menuju kaldera. Bayangan saya kaldera ini pasti mantap sekali karena bisa melihat kawah gunung Bromo. Dengan biaya Rp.60.000 (pp) kami menunggang kuda menuju ke dasar tangga menuju kawah. Cahaya terik membuat kami ngos-ngosan saat menapaki tangga yang sepertinya ga kunjung berakhir. Sekeliling kami memang wah, tapi sepertinya terlalu biasa untuk dituangkan menjadi hasil karya yang bagus. Saya sendiri kehabisan ide karena ga tau mau moto apa yang special. Akhirnya bermain dengan sudut yang kecil-kecil.

Image

Habis dari kawah, perjalanan dilanjutkan ke savanna, dimana terbentang padang rumput yang luas dengan beberapa sudut yang disebut sebagai padang teletubbies karena menyerupai background yang ada dalam film teletubbies, film yang memuat 4 boneka yang suka berpelukan ga jelas itu hehehehe. Lagi-lagi kami ga tau memoto apa. Sebenarnya pengen berbaring di di padang rumput itu sih karena sepertinya asik atau kalo misalnya foto prewed dengan pasangan di antara rerumputan yang tinggi, pasti romantic. Atau kalo misalnya berlarian saling mengejar dengan pasangan di sini, pasti mantap. Bahkan, pikiran nakal kalo bercinta di padang rumput seluas ini di alam terbuka, pasti memberi sensasi yang luar biasa hahahahaha.

Image

Puas dengan savanna, kami melanjutkan ke pasir berbisik. Asumsi saya, pasir berbisik merupakan hamparan gurun yang sangat luas dimana sepanjang mata memandang, pasti keliatan pasir. Eh, saya salah! Ternyata padang pasirnya ga selebar daun kelor hehehe. Ga besar-besar amat ya. Pantas ga ada onta…

Image

Anyway, dari jauh, Anton dan saya sudah berdecak kagum. Kenapa? Karena kabut tipis yang bergerak menutupi gurun ini sungguh dramatis, terkesan mistis. Saya terus-terang tidak mendengar adanya suara pasir berbisik, atau ada cuman karena saya a sadar sehingga ga mendengar bisikan cinta dari pasir ini. Yang ada, saya sibuk bermain dengan kamera, mencoba mendapatkan sudut dramatis dari gurun ini. Tanpa disengaja, terlontar kata-kata pujian kepada Tuhan atas keindahan ini. Bahkan, sedikit lebay, saya sibuk mengupload foto-foto dari sini ke twitter dengan mengatakan ‘God must be at His best mood when He created Bromo’. Ga bermaksud lebay, tapi sungguh keindahan Bromo luar biasa.

Image

Pukul 11an (siang), kami bergerak meninggalkan Bromo menuju ke Surabaya untuk kami lanjutkan dengan pesawat balik ke Jakarta. Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali lagi dengan lebih banyak teman-teman dan juga peralatan fotografi yang lebih lengkap lagi. Mudah-mudahan ya.

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Jatuh Cinta dengan Penyu di Ujung Genteng

Di tengah kebimbangan akan mendarat di perusahaan mana (karena masih nganggur), tiba-tiba ada ajakan dari Ariev untuk ikut trip ke Ujung Genteng. Saya kenal Ariev dalam trip ke Goa Buniayu. Karena sudah lama penasaran dengan keindahan Ujung Genteng, maka saya memutuskan untuk ikut.

 Itinerary yang saya dapatkan adalah Semanggi (titik berkumpul) – Curug Cikaso – Curug Cigangsa – Ujung Genteng – Amanda Ratu – Jakarta

Kami berangkat malam sehingga bisa menghemat biaya akomodasi yang kami habiskan di dalam bis. Perjalanan tidak terlalu lancer karena jalan yang rusak saat semakin mendekati Curug Cikaso. Kami tiba di kawasan Curug sekitar jam 5 dan kami mempunyai waktu istirahat sekitar 1 jam lebih sebelum naik perahu menuju Curug.

Image

Curug Cikaso ini bagus sekali dikarenakan terdiri dari 3 curug yang berdekatan dan membentuk sebuah pemandangan yang indah. Sayang untuk mendapatkan foto 3 curug sekaligus, sudut pengambilan menjadi agak kaku karena salah satu curug yang letaknya agak terpisah sendiri.

Image

Balik ke tempat parker bis, kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Cigangsa. Sebelum memulai hiking menuju lokasi curug, Dwi sang coordinator mengingatkan saya agar memperhatikan teman-teman yang lain karena musim hujan sehingga akses menjadi sulit dan lumayan berbahaya. Eh, ga taunya saya sendiri malah terjatuh dua kali selama menuruni bukit yang lumayan terjal itu. Beberapa peserta memutuskan berhenti di tengah jalan dan tidak ikut turun ke bawah. Saya sendiri, karena kebiasaan kiasu, tetap memutuskan untuk ga mau rugi dan turun hingga mencapai lokasi.

Image

Yang saya suka dari Curug ini adalah debit air dan lebarnya curug ini untuk ukuran 1 lumayan besar. Bentuknya yang melebar membuat curug ini dijuluki sebagai Niagaranya Indonesia. Emang benar sih, mirip apalagi di saat musim hujan begini, debit air menjadi semakin besar. Kehadiran kami disambut pelangi yang begitu indah, semakin membuat kami takjub akan keindahan karya Tuhan. (Catatan: berhati-hati selama di sini karena batuan yang lumayan licin dan resiko yang lumayan besar karena jurang yang dekat dengan lokasi curug)

Setelah puas dengan curug ini, perjalanan dilanjutkan dengan melewati akses yang rusak parah menuju tempat penginapan kami di Ujung Genteng. Kawasan yang kami nginap ini adalah milik Pemda sebagai tempat penangkaran penyu, penetasan telor penyu dan kemudian dilepaskan dalam bentuk tukik (anak penyu). Tidak banyak yang bisa kami nikmati di sini selain pantainya.

Image

Menjelang jam 5 sore, para petugas melepaskan tukis ke laut lepas. Kali ini, yang beruntung melepaskan tukik adalah para petugas TNI yang lagi mampir. Menurut info, sekiranya ga ada paetugas, pengunjung akan diberi kesempatan untuk melepaskan tukik. Tapi saya sendiri ga tega sih memegang tukik itu. Takut tukiknya mati hehehe.

Image

Acara pelepasan tukik dilanjutkan dengan sunset yang sangat indah. Malamnya setelah makan malam, kami diundang untuk diberikan briefing mengenai kehidupan penyu. Ternyata penyu setelah berusia 30 tahun, akan kembali ke pantai tempat 30 tahun lalu, saat dia masih berwujud tukik, baru menetas dan berlepas menuju laut. Wah, ternyata balik ke pantai yang sama. Jika memang demikian, tentunya kita wajib menjaga lingkungan tersebut agar setelah 30 tahun kemudian, penyu-penyu ini masih bisa kembali ke pantai ini untuk bertelor. Bagaimana sekiranya pas mereka kembali, pantai ini sudah berubah menjadi deretan vila? Atau tempat sampah? Atau bahkan dimanfaatkan untuk hal lainnya? Belum lagi sampah yang begitu banyak di sana. Akankah sampah-sampah ini berbahaya? Dari briefing tersebut, kami menjadi lebih mengerti betapa alam ini sangat perlu untuk kita jaga dan lestarikan.

Image

Malamnya sekitar jam 10, kami dipanggil dan kami bergerak cepat dalam kegelapan untuk melihat penyu yang sedang bertelor. Menurut petugas, tidak tiap malam bisa melihat penyu bertelor, terutama di titik yang boleh dikunjungi turis. Ada tiga titik yang tertutup untuk turis karena dijadikan pusat riset. Tetapi justru di sana yang banyak ditemukan penyu bertelor. Anyway, kami sudah cukup beruntung untuk menyaksikan peristiwa penyu bertelor meski kami harus bergerak dalam kegelapan yang amat sangat karena menurut pengelola, sedikit cahaya akan merusak niat para penyu untuk bertelor.

Image

Esoknya kami masih sempat mengambil beberapa foto pagi tanpa sunrise karena pantai ini berlawanan arah dengan sunrise. Perjalanan dilanjutkan menuju Amanda Ratu atau yang disebut Tanah Lot-nya Sukabumi karena bentuknya yang memang mirip. Yang paling saya sukai di sini adalah hamparan pohon kelapa yang tersusun rapi, mengingatkan saya akan kartu pos bergambar pohon kelapa yang pernah saya terima sewaktu sekolah di Bagansiapiapi dulu. Keren banget…

Image

Dalam trip kali ini, saya menambah beberapa teman baru. Ada Fara dan Tere (sudah kenal Ariev) yang lucu-lucu. Fara yang punya karakter yang keras, Tere yang super lucu hingga disebut mama tukik. Juga teman baru seperti Leonard (fotografer yang sepertinya jarang ketawa karena asik dengan objek sendiri), Ayu dan Panji (pasangan model dan fotografer yang eksis di setiap spot), dan juga beberapa teman lucu lainnya termasuk Claudia, anak Dayak yang harus merelakan handphonenya karena ikut terbawa saat diceburin ke laut karena berulang tahun. Taktik pdkt Dwi yang berakhir suram hehehe

Image

Akhirnya perjalanan kami tutup dengan balik ke Jakarta, dengan kembali melewati jalanan rusak dan beberapa titik yang macet. Hmmmm, semoga pemerintah bisa membantu menyediakan infrastruktur yang baik untuk mendukung pariwisata negeri tercinta. Semoga…

Image

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Lies Beyond

20120307-004557.jpg
Sebenarnya ini foto langit2 di living world. Somehow saat saya melihat ini, saya melihat masa depan yang penuh dengan ketidakpastian. Saya convert ke bentuk seakan-akan ini jendela agar kesan menatap ke depannya lebih jelas atau lebih sesuai dengan eye level.
So, what lies beyond….

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Kita yang Menentukan Sikap Kita dalam Menghadapi Orang Lain

Posting ini saya copy dari message di BBM (Blackberry Messenger) yang dikirim oleh teman kuliah asal Lampung, Sugiarto.

Saya merasa pesannya bagus jadi saya posting juga di blog saya.

Thanks to Sugi atas broadcast message yang mantap ini.

Have a nice day everyone!

Ada 2 orang ibu memasuki toko pakaian & ingin membeli baju, ternyata pemilik toko lagi bad mood sehingga tidak melayani dengan baik, malah terkesan buruk, tidak sopan dengan muka cemberut.

Ibu pertama jengkel menerima layanan yang buruk seperti itu. Yang mengherankan, ibu ke-2 tetap enjoy, bahkan bersikap sopan pada penjualnya.

Ibu pertama bertanya, “Mengapa Ibu bersikap demikian sopan pada penjual yang menyebalkan itu?”
Lantas dijawab “kenapa aku harus mengizinkan dia menentukan caraku dalam bertindak? Kitalah penentu atas hidup kita, bukan org lain.” Tapi ia melayani kita denga buruk sekali,bantah Ibu pertama.
Itu masalah dia. Kalau dia mau bad mood, tidak sopan, melayani dengan buruk dan lain-lain, toh tidak ada kaitannya dengan kita. Kalau kita sampai terpengaruh, berarti kita membiarkan dia mengatur & menentukan hidup kita, padahal kita yang bertanggung jawab atas diri kita,” jelas Ibu kedua.

Tindakan kita kerap dipengaruhi oleh tindakan orang lain, kalau orang memperlakukan kita buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang buruk juga & sebaliknya.
Kalau orang tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi, kalau orang lain pelit pada kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadinya demikian pelit, kalau harus berurusan dengan orang tersebut. Ini berarti tindakan kita dipengaruhi oleh tindakan orang lain.

Kalau direnungkan, sebenarnya betapa tidak arifnya tindakan kita, kenapa untuk berbuat baik saja, harus menunggu orang lain baik dulu ?
Jagalah suasana hati kita sendiri, jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak!!! Kita yang bertanggung jawab atas hidup kita, bukan org lain..

Hidup kita terlalu berharga, oleh sebab itu:
“Make Yourself Have a Meaning for Others”

Pemenang kehidupan adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar dan yang tetap tenang di tengah badai yang paling hebat, serta mengandalkan Allah…Have a nice day :) selamat beraktifitas kembali..

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Lentera di Tengah Samudera

Judul diatas adalah nama buku yang ditulis oleh Rm. A. Heru Jati, MSC, seorang Pastor yang sekarang menjadi Pastor Kepala Paroki St. Kristoforus di Grogol.

Saya melihat buku ini di tempat cici saya. Dari desain sampul, sekilas buku ini kesannya biasa saja, bahkan cenderung tidak menarik buat saya karena terkesan isinya pasti ‘berat’. Topiknya pasti membosankan. Cuman cici saya mengatakan bahwa buku ini ditulis Pastor dan royalti dari penjualan buku ini disumbangkan untuk pembangunan gereja.

Kagum dengan niat baik sang Pastor, saya memutuskan untuk membaca buku ini.

Bagian awal buku ini agak membingungkan. Setting waktunya sepertinya agak loncat, tapi yang mengesankan adalah kisah nyata ini ditulis dengan bahasa yang simpel dan gampang dicerna.

Salah satu bagian yang paling saya suka adalah pergolakan menjadi seorang Imam dan menjadi pribadi yang digunakan oleh-Nya. Bagian pembicaraan dengan Suster dan surat-menyurat yang terjadi menjadi suatu refleksi yang sangat tepat dalam kondisi hidup seperti ini. Belajar dari Allah karena Dia memberi dan terus memberi. Hanya dengan bercermin pada Allah, kita sebagai manusia bisa kuat untuk terus menjalani hidup.

Selain itu, petualangan Romo di daerah Maluku, di pulau-pulau yang indah, mengunjungi penduduk asli yang justru dijuluki ‘Suku Terasing’, tantangan menghadapi ombak dalam perjalanan berhari-hari diatas kapal, dan berteman dengan penduduk-penduduk yang sederhana namun ramah, menjadi sebuah catatan perjalanan yang luar biasa, mengundang minat untuk mengunjungi daerah tersebut.

Bagian-bagian akhir yang kelam menjadi refleksi akan arti hidup kebersamaan sesama manusia. Bagaimana kerusuhan yang berdasarkan SARA yang teroganisir oleh pihak-pihak tertentu akhirnya membumihanguskan kedamaian yang selama ini ada.

Sungguh pilu melihat sesama saudara dihasut untuk saling membantai karena ego pihak-pihak tertentu.

Untungnya, penyampaian cerita yang baik dan juga mukjizat akan keagungan-Nya dalam berbagai hal, semakin menguatkan kita akan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus mengingatkan kita akan pentingnya hidup kebersamaan dan juga nilai-nilai universal yang harus ditekankan. Jika tidak, adu domba akan terus terjadi sehingga akan terjadi pertumpahan darah antar sesama.

Semoga buku ini bisa menjadi inspirasi untuk menghargai keanekaragaman yang ada dan mengajak kita untuk semakin mencintai perdamaian dan tidak mudah untuk diadu domba.

Bagaimanapun juga, kelak setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya saat berpulang kepada-Nya.

Nice book!

Leave a Comment

Filed under Uncategorized

Bersama Mama ke Genting & Kuala Lumpur

Mumpung masih jadi penggangguran, jadi saat mama mengatakan ingin ke Genting Highlands karena belum pernah ke sana, langsung mengiyakan untuk segera berangkat. Ada sedikit perasaan bersalah tidak pernah mengajak mama ke Genting selama saya kuliah di sana. Selama saya kuliah 4 tahun di sana, mama cuman pernah sekali ke malaysia dan itu pun saat saya wisuda. Setelah itu, mama masih sempat ke malaysia saat menemani tante berobat atau saat mama sendiri dilarikan ke sana untuk operasi dua kali karena pendarahan.

Awal perjalanan kali ini mungkin merupakan trip yang sangat tidak nyaman buat mama karena sehari sebelumnya beliau sedang diare. Tidak merasa baikan, mama tetap memaksakan berangkat karena tidak ingin kami kecewa. Saat di pesawat, terasa sekali betapa menderitanya beliau dengan perut yang kesakitan. Untungnya saat mendarat di bandara, beliau merasa baikan sehingga perjalanan bisa kami lanjutkan ke Genting. Niat ingin mengajak mama merasakan dinginnya Genting dan apa saja yang ada di sana, tidak terlaksana sepenuhnya karena malamnya, rasa sakit kembali mendera sehingga mama terpaksa balik ke kamar untuk beristirahat lebih awal. Tiket Ripley’s Believe It or Not juga menjadi sia-sia karena tidak bisa dimanfaatkan.

Untungnya setelah beristirahat semalaman, esoknya mama sudah jauh lebih baik. Obat sakit perut yang kami beli di Watson ternyata sangat membantu. Setidaknya trip ini masih bisa dinikmati setengahnya.

Dalam trip kali ini, terasa sekali betapa usianya yang sudah di atas 60 sudah mengganggu ketahanan tubuh beliau. Mama selama ini adalah sosok yang sangat kuat, bahkan lebih kuat dari kami. Beliau jarang sekali sakit, semasa muda setiap hari membanting tulang dari pagi hingga malam, belum lagi hingga sekarang pun masih ngotot untuk memasakkan sarapan dan makan malam untuk kami, juga melakukan kerjaan-kerjaan rumah yang tentunya tidak mudah untuk orang seusianya. Niat kami untuk mencari seorang pembantu rumah ditolak mentah-mentah olehnya karena beliau terus merasa sanggup dan ingin memanfaatkan hal ini sebagai aktifitas di rumah.

Sewaktu kami tiba di Genting, mama sempat oleng dan hampir jatuh karena pusing. Begitu juga saat kami berjalan mengunjungi titik-titik tertentu, mama yang biasanya ngotot ingin menikmati segala tempat meski beberapa titik harus ditempuh dengan menaiki anak tangga yang banyak (sewaktu kami hiking di tempat lain) kali ini justru berbeda. Banyak sekali tempat yang tidak ingin dinikmatinya karena merasa kecapean. Saat kami di Chin Swee temple, beliau menolak naik ke pagoda untuk menikmati pemandangan dari atas. Begitu juga saat di Goh Tong Hall. Saat kami berjalan-jalan di kawasan Bukit Bintang, beberapa kali beliau merasa kecapean. Jika dihitung efisiensi, trip kali ini merupakan trip saya yang paling tidak efisien karena banyak lokasi dan hal yang tidak bisa saya lakukan karena keterbatasan fisik dan gerak mama. Tapi di sisi lain, trip kali ini juga menjadi trip yang penting karena saya disadarkan akan kondisi mama.

Diam-diam, ada perasaan sedih dan tidak tega melihat kemunduran fisik mama meski di sisi lain, kami juga menyadari bahwa ini adalah resiko dari setiap manusia yang menginjak tua. Harapan kami mudah-mudahan mama bisa terus sehat dan bisa menemani kami mengunjungi lebih banyak tempat lagi seperti keinginannya untuk mengunjungi China terutama Xiamen dan Hainan karena kakak pertama dan keduanya yang terpisahkan sewaktu kecil, masih tinggal di sana. Amin

Leave a Comment

Filed under Uncategorized