Hari ini, 14 April 2012 adalah peringatan 46 tahun Tzu Chi. Pagi-pagi, saya berangkat menuju Jing Si Tang di PIK untuk mengikuti ceramah Master Cheng Yen secara live dari Taiwan. Sebenarnya ada sesi doa bersama tapi karena dilakukan secara Budhis, maka saya tidak mengikuti sesi tersebut.
Saat mendengarkan ceramah Master, Master Cheng Yen melakukan kilas balik atas apa yang Tzu Chi lakukan 46 tahun lalu. Mulai dengan pembagian bantuan setiap bulan dan pemberian makan siang yang hangat bagi para penerima bantuan. Juga berkisah tentang kebiasaan doa rutin yang dilakukan dengan ruangan yang sangat sempit hingga akhirnya relawan harus melakukan pradaksina hingga ke luar ruangan. Kondisi yang serba sederhana tidak pernah menjadi halangan bagi perkembangan Tzu Chi. Justru di dalam kesederhanaan, Tzu Chi berkembang pesat.
Master juga berpesan tentang relawan-relawan yang begitu tulus dalam menjalani jejak bodhisatva. Dalam pandangan saya langsung muncul beberapa sosok yang selama ini saya kagumi:
1. Su Mei Shigu – wanita istri pengusaha Taiwan ini yang merintis Tzu Chi di Indonesia dari tahun 1993. Kesederhanaan beliau sungguh luar biasa. Meski beberapa orang menganggap beliau terlalu pendiam, tetapi beliau tidak pernah mengeluh dan terus bekerja. Berapa dari kita yang bisa seperti beliau?
2. Lynda Shigu – ketua heqi timur ini mungkin bukan tipe yang bisa berdebat. Beliau adalah tipe ‘Yes Sir’. Yang penting melakukan. Kepolosan beliau sungguh luar biasa sehingga meski sering dalam posisi serba salah sebagai Ketua Heqi, beliau terus melakukannya. Beberapa orang mungkin sudah menyerah tetapi beliau tidak.
3. San Ying Shigu – relawan ini bisa bertukar bis beberapa kali saat menerima tugas melakukan survey kasus. Pernah shigu ini harus ganti bis 3 kali untuk survey ke daerah-daerah pinggiran di Jabodetabek demi memberikan penilaian yang tepat sebelum memberikan bantuan pada keluarga yang membutuhkan. Kesederhanaan dan tekad yang ulet sungguh luar biasa.
Orang-orang diatas di dalam kesederhanaan mereka justru menjadi sosok yang luar biasa. Berapa orang yang bisa bertahan selama 19 tahun merintis sesuatu yang baru di Indonesia dengan dibayang-bayangi kecurigaan pemerintah akan suatu yayasan yang tidak jelas. Saat sharing hari ini yang juga merupakan syukuran kepindahan kantor Yayasan dari ITC Mangga Dua ke PIK, Sumei Shigu sampai menitikkan air mata. Tidak terasa 19 tahun dengan berpegang teguh pada keyakinan kepada Master, beliau mempersembahkan hidupnya tanpa imbalan materi.
Siangnya, setelah acara selesai, saya berkesempatan mengikuti Kunjungan Kasih ke satu keluarga di Rusun Tanah Pasir, Jakarta Utara. Yang akan kami kunjungi adalah seorang nenek berusia 79 tahun. Suaminya yang lebih muda 20an tahun karena stres sehingga harus mendapatkan perawatan dari dokter jiwa. Nenek ini sendiri kena stroke sehingga tidak bisa mengurusi diri sendiri. Pasangan ini tidak punya anak. Suaminya adalah orang Taiwan yang berlayar ke Indonesia dan menetap di Indonesia. Karena tidak pernah mengurus kewarganegaraan, hingga hari ini suaminya masih berstatus WNA. Karena suaminya sendiri tidak menjalin jodoh yang baik dengan saudara mereka di Taiwan sehingga saat kondisi kejiwaan suaminya terganggu, keluarga suaminya yang tinggal di Taiwan juga tidak mau menerimanya kembali.
Kondisi mereka berdua sungguh memprihatinkan. Secara rutin, relawan Tzu Chi bukan hanya mengantarkan bantuan bulanan, tetapi juga harus membersihkan rumah mereka. Nenek ini karena stroke, tidak bisa menjaga diri sendiri. Buang air dilakukan langsung di pakaian. Diaper yang dibelikan relawan juga ditolak dengan alasan tidak nyaman. Hari ini saat kami berkunjung, saya menerima keluhan dari tetangga. Tetangga yang secara berkala membawakan makanan buat mereka pun kewalahan. Suaminya yang saat ini dirawat di Rumah Sakit Jiwa tidak bisa menjaga istrinya sehingga nenek ini dengan kotoran yang berceceran harus menunggu tiga hari hingga kunjungan relawan selanjutnya baru bisa dibersihkan. Bau yang menyengat membuat tetangga enggan untuk membantu. Alasan mereka: tubuh nenek terlalu bongsor sehingga berat jika harus dipindahkan untuk dibersihkan. Kembali relawan Tzu Chi mengajak orang ke sana untuk membersihkan rumah dan juga badan nenek.
Menghadapi hal seperti ini, saya cuman bisa berkata pada diri sendiri, ‘Untung ada Tzu Chi’. Jika tidak ada relawan Tzu Chi, bagaimana nasib pasangan tua ini. Meski Tzu Chi tidak bisa membantu semua, setidaknya Tzu Chi bisa melakukan semampunya, mengurangi penderitaan sebagian umat manusia.
Terima kasih Master Cheng Yen untuk kesempatan ini…


































